Qiyamat Sebelum Qiyamat

Senin, 16 April 2018 19:38 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali, MM
Qiyamat Sebelum QiyamatH Iqbal Ali
DALAM buku ''Kumpulan Khutbah Jumat Pilihan'' ada sebuah judul; Qiyamat Sebelum Qiyamat. Buku itu terbit tahun 2010, karangan Hussein Hamzah. Barangkali tak salah jika kita sebut kembali melalui tulisan ini, karena masih sangat relevan dengan situasi dan kondisi saat ini. Selaku mukmin kita meyakini bahwa qiyamat pasti datang.

Alquran menyebutkan: ''Segala sesuatu pasti akan rusak binasa dan hancur kecuali Allah'' (Alqashash 88). Selanjutnya disebutkan lagi oleh Allah; ''Akan Ku isi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia seluruhnya, yaitu orang orang yang lalai, lupa, ingkar kepada Allah.'' (Hud 119) .

Sungguh celaka orang-orang yang umurnya cuma dihabiskan untuk mengejar nafsu dan mengabdi kepadanya. Mengabdi kepada syahwat, (abdussyahwat) mengabdi kepada harta (abdulmaal), mengabdi kepada politik dan kekuasaan (abdussiyaasah) dan abdul-abdul yang lain. Padahal yang diinginkan agama hanyalah ''Abdullah sejati'', mengabdi hanya kepada Allah semata.

Di sinilah relevansinya, apa yang disorot dalam buku khutbah tersebut. Ternyata belum banyak perubahan dengan kondisi sekarang ini, malah semakin meningkat, yaitu semakin banyak orang lupa diri, siapa dirinya, untuk apa hidupnya dan mau kemana nantinya.

Sepertinya mereka hanya mementingkan materi dan kekuasaan yang harus dimiliki. Tak peduli halal dan haram mendapatkannya. Ideologi mereka telah bergeser dari 5 sila menjadi 2 sila: Kekuasaan Yang Maha Esa dan Keuangan yang Maha Kuasa. Ideologi ini diyakini outputnya akan melahirkan krisis terutama krisis moral dan krisis keteladanan (kepemimpinan).

Sekarang ini orang pintar banyak tapi minus moral. Banyak tahu ajaran Islam, banyak hafal alquran tapi tak diamalkan. Disinilah suksesnya syetan; Kata rasul, dalam kutbah perpisahan sebelum wafat: ''Syetan tidak lagi menggiring dan menggoda manusia agar menyembahnya, tapi syetan puas dan bahagia, sekiranya manusia mengikuti cara caranya yaitu: Menjadikan umat manusia ini fasik dan munafik.''

Masih mengaku muslim, tapi sikap dan perilaku kesehariannya sama sekali tidak mencerminkan sebagai muslim yang baik dan justru malah kerjanya mencemarkan ajaran Islam.

Bermunculan fitnah, kebencian, intoleran, bohong, menghasut dan sebagainya. Mulut dan perbuatan pecah kongsi. Kata ''demi rakyat'' hanya klise belaka, jauh panggang dari api. Korupsi sudah dalam kondisi darurat, mengerikan. Narkoba, miras sudah jadi berita yang viral setiap hari.

Di negeri kita, yang tak diduga dan tak disangka menjadi kenyataan, akal sehat mengatakan tak mungkin, tapi terjadi. Sudah diketahui umum, orang departemen agama korupsi pengadaan Alquran. Dua menteri agama koruptor dan masih dipenjara.

Tega-teganya pengusaha umroh yang lagaknya seperti muslim sempurna melibas uang calon jamaah umrohnya untuk berfoya-foya. Pimpinan-pimpinan perusahaan umroh tersebut berjilbab, berpakaian gamis, pokoknya berpenampialn baik. Ternyata mereka hanyalah ''preman berjubah''.

Begitu pula rasa malu sudah lama hilang dinegeri kita. Orang tak malu ditangkap, orang tak malu selingkuh, orang tak malu korupsi, orang tak malu bohong, tak malu menyampikan pernyataan-pernyataan kontroversi, orang tak malu memfitnah, orang tak malu dihujat karena mulutnya tak bertapis dan tak malu tak malu lainnya.

Pada hal rasa malulah benteng yang sangat tangguh menghadang perilaku-perilaku amoral. Agama hanya formalitas dan rutinitas. Memang sempurna gagal pemahaman agamanya terutama tak paham tujuan beragama. Berbuat makruf dan mungkar silih berganti. Inilah yang disebut Qiyamat sebelum qiyamat. Jiwa raganya masih hidup tapi iman dan taqwanya telah mati. Mengaku Islam, tapi perilaku tunduk kepada syetan.

Mudah-mudahan Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk sadar diri sekaligus merenung, siapa diri kita, untuk apa kita hidup dan mau ke mana kita nanti.

Kita berusaha dan berdoa agar tidak terpeleset oleh rayuan syetan dan kebisingan hiruk pikuk dunia ini. Jika terpeleset, neraka jahannam telah menunggu dengan sabar. Nauzubillah.***

Drs H Iqbal Ali, MM adalah Mubaligh IKMI Riau dan Ketua Dewan Pembina IKMR Riau.

Kategori:Opini
wwwwww