Betulkah Indonesia Sulit Maju?

Selasa, 27 Maret 2018 20:27 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali, MM
Betulkah Indonesia Sulit Maju?H Iqbal Ali
KETUA Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) AM Hendropriyono menulis di Harian Kompas (16 Januari 2017). Saya tertarik dengan sebuah kalimat di tulisan tersebut, yaitu: ''Kemajuan bangsa terhambat jika gaduh terus''. Pikiran Pak Hendropriyono itu saya lanjutkan menjadi sebuah tulisan dengan judul: Betulkah Indonesia Sulit Maju?

Sampai saat ini, sudah 72 tahun merdeka Indonesia masih saja belum berubah dari sebutan negara berkembang. Untuk sementara memang kita belum bisa maju karena syarat utama negara maju adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) bukan kualitas sumber daya alam (SDA) yang berlimpah maupun ekonomi yang sangat mapan.

Namun tidak hanya itu tapi juga harus didukung dengan kondisi yang kondusif di beberapa sektor seperti: politik, hukum, pendidikan dan sosial kemasyarakan yang nyaman. Justru di sinilah permasalahan kita, politik sangat gonjang-ganjing, hukum tajam ke bawah tumpul ke atas. Pendidikan apalagi, sangat amburadul, karena belum berhasil melahirkan manusia-manusia pintar yang berakhlak mulia. Masih lebih 60% tamatan Sekolah Dasar, lebih kurang 10% berpendidikan tinggi dan itupun kualitasnya pas-pasan.

Yang tak kalah sengitnya pula uang rakyat ditilap secara beramai-ramai oleh tikus-tikus berdasi dengan jumlah yang menakjubkan. Tentu menyengsarakan rakyat dan menjadikan rakyat sensitif serta reaktif.

Kita lihat perpolitikan yang gonjang-ganjing, kotor, memuakkan dan penuh dagelan-dagelan yang tak lucu. Parlemen bukan lagi lembaga wakil rakyat tapi berubah menjadi lembaga wakil partai, karena yang diperjuangkan hanyalah kepentingan pribadi dan partai.

Kalimat untuk kepentingan rakyat hanya klise, karena perkataan selalu pecah kongsi dengan perbuatan. Etika politik sudah semakin jauh, politisi seenaknya ngomong , mulut tak bertapis. Hobi menjelek-jelekan orang apalagi lawan politiknya, fitnah, kebencian dan intoleran merupakan keseharian mereka.

Betul kata orang kedai kopi, politisi kita dijuluki politisi ''ikan lele'' yaitu senang di air keruh dan senang membuat gaduh.

Negara demokrasi itu butuh oposisi, namun oposisi yang berkualitas, bertanggung jawab dan berakhlak mulia, terutama punya rasa malu. Pernyataannya harus bernas, membangun dan dapat dipertanggungjawabkan. Tidak asal ngomong. Ingat, rakyat menilai kita.

Para politisi sangat rentan terhadap ketidaknyamanan masyarakat, akibat pernyataaan-pernyataannya, hanya demi menuju kekuasaan, walaupun dilakukan dengan segala cara tanpa menengok rambu-rambu agama.

Kita tengok penegak hukum, tak mau kalah. Hukum tajam ke bawah tumpul ke atas dan jelas ini membuat rakyat tidak puas, lagi-lagi rentan terhadap kegaduhan, karena keadilan diperjualbelikan.

Kebanyakan hakim tak menggunakan hati nurani, lain tuntutan lain keputusan. Begitu pula pengacara, mula-mula menggebu-gebu, semua salah yang benar hanya dia, namun akhirnya menyerah. Seharusnya mereka malu karena pembelaannya hamper semua gagal.

Last but not least, yaitu ulama, banyak bermunculan sekarang ulama-ulama yang tidak membawa kesejukan, menonjolkan paham dan alirannya. Jika tidak sealiran, tidak akrab dan memisahkan diri. Malah ada yang dengan lancangnya mengatakan orang lain kafir. Padahal Islam itu agama sejuk, damai dan rahmatan lil alamin.

Biar kita berbeda tapi tetap bersaudara, itulah islam. Bagi mereka berbeda dan tetap mencerca. Apalagi di tahun politik ini akan berhamburan pernyataan-pernyataan politisi, ada yang positif tapi sangat banyak yang negatif seperti; fitnah, kebohongan, kebencian, provokasi dan intoleran. Tentu membuat masyarakat bingung, resah dan bisa marah karena dijelek-jelekan dan difitnah. Stabilitas bernegara pasti terganggu, karena berisiknya panggung politik. Dan jangan heran karena sulit dielakkan kegaduhan-kegaduhan akan muncul dengan bermacam bentuk.

Ada yang menarik, (Kompas, 24 April 2016) Kolom Politik dan Hukum ada tulisan M. Subhan SD dengan judul: Negara Bubar karena Politisi. Oleh sebab itu jika Indonesia ingin maju mari bersama-sama kita mngurangi kalau bisa berubah ke kondisi yang lebih kondusif dimana perpolitikan harus berlandaskan etika dan sopan santun.

Begitu pula pendidikan betul- betul dikelola secara profesional, dengan guru dan dosen yang berkualitas, berwawasan luas dan mendidik. Tidak hanya mengajar saja, apalagi hanya mengandalkan ijazah S2, karena tidak semua sarjana (S1, S2, S3) mampu mengajar dengan baik. Guru dan dosen itu harus diiringi dengan bakat.

Bagaimana dengan ulama dan ustaz? Juga demikian, harus menyajikan dakwah yang sejuk, tidak memecah belah umat, apalagi bersikap dialah yang bernar sedangkan yang lain salah. Hukum betul-betul tegak di atas landasan kebenaran dan keadilan. Masyarakat luas jangan mudah terpancing oleh tarik menarik kepentingan termasuk fanatik golongan. Insya-Allah diyakini Indonesia bisa maju.

Jika sebaliknya peluang-peluang ketidak nyamanan, kegaduhan diciptakan terus, pendidikan tidak direvolusi kearah learning to do atau learning to be, panggung politik masih berisik dengan suara-suara sumbang, diyakini pula Indonesia sulit maju dan takkan mampu bersaing.

Jangan lupa bahwa untuk maju itu, harus diawali dengan : kesadaran, mau berubah, siap untuk berubah, dengan kerja keras dan mulailah dari sekarang. Wallahu a’lam.***

Drs H Iqbal Ali, MM adalah Ketua Pembina IKMR Riau dan Ketua STISIP Persada Bunda 2008-2016

loading...
Kategori:Opini
wwwwww