Antara Ikhlas dan Profesional

Rabu, 03 Januari 2018 11:26 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali, MM
Antara Ikhlas dan ProfesionalH Iqbal Ali
BAGI umat Islam, kata ikhlas tentu sudah familiar, sering didengar, sering disebut, tapi kadang-kadang belum terwujud hakikat dari dari kata ikhlas tersebut. Hakikat dari pada ikhlas adalah: Ingin mendapatkan rida Allah.

Sedangkan definisinya menurut Imam Al-Ghazali, ikhlas adalah: Pernyataan kata hati, bahwa apa yang akan dilakukan hanya karena Allah semata dengan harapan mendapatkan rida-Nya. Maksudnya, tidak ada tujuan lain kecuali hanya karena Allah semata. Kenapa amal harus didasarkan keikhlasan? Karena merupakan perintah Allah dalam Alquran surat Al-bayyinah 5; ''Mereka tidak disuruh kecuali agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada Nya dalam menjalankan agama.''

Selanjutnya Imam Al-Ghazali mengingatkan, bahwa ikhlas itu selalu berada dalam keadaan sulit, ibarat telur diujung tanduk. Sedikit saja goyang maka jatuhlah ia, maksudnya ; menurut kita telah banyak melakukan amal amal secara ikhlas, rupanya tanpa disadari kita telah terperangkap kepada perbuatan diluar keikhlasan yaitu Riya. Dalam beramal yang dilihat Allah adalah pernyataan hati atau niat kita.

Menurut Dr Abdul Rauf, MA, (republika 2004), bahwa keikhlasan dalam beramal, merupakan jiwa dan roh dari amal tersebut. Pada umumnya yang sering tergelincir kedalam riya bersumber dari; harta, simbol-simbol, gelar-gelar, huruf H didepan nama, Kiyai, Imam besar dan sebagainya. Sangat rentan terjebak perbuatan riya, apabila niatnya tidak ikhlas, dimana ada tujuan-tujuan lain. Bisa jadi ingin dikatakan alim, ingin dikatakan orang hebat, ingin disebut telah haji, ingin dikatakan orang terpandang dan sebagainya, riya telah menunggu dengan sabar.

Tapi kalau niatnya ikhlas dan tak pernah terngiang dihati ada maksud-maksud lain, tentu boleh. Namun akhir-akhir ini , banyak para pemimpin, politisi, mempermainkan ibadah umrah sepertinya tidak ikhlas ada maksud-maksud terselubung. Umrah dijadikan tameng menutupi kelakuannya atau kejahatannya agar orang tidak yakin atas perbuatan bejatnya.

Sungguh sadis orang ini tega-teganya mempermain-mainkan agama. Hadis rasulullah riwayat Al-hakim, ''bahwa berbuat riya itu sudah termasuk Syirik'' dan pada hadis lain raulullah bersabda: ''Wahai Abu Hurairah, ingatlah bahwa orang-orang yang berbuat riya itulah orang pertama dilahap api neraka, karena beramal tidak ikhlas, hanya ingin dipuji''.

Sekarang bagaimana kedudukan ikhlas dalam dunia kerja? Jelas tidak bisa terpisah dan harus bergandeng dengan Profesional.

Ikhlas disebut dengan pernyataan hati (state of mind) sedangkan profesional disebut pernyataan aksi (state of action) dimana perbuatannya bercirikan: berdasarkan keilmuan, terukur, pertimbangan objektif, dilakukan oleh yang ahli dibidangnya. Artinya tidak seenak kita berbuat. Ikhlas saja tidak profesional, tidak baik dan tidak diinginkan.

Profesional saja tidak ikhlas juga tidak diinginkan karena tidak akan jadi amal soleh. Yang diinginkan, niatkan dengan ikhlas, kerjakan secara professional, maka jadilah ia amal soleh, berguna buat diri sendiri sekaligus berguna bagi orang banyak. Inilah kata Allah, penghuni surga selama-lamanya.

Persoalannya, masih banyak orang-orang yang belum memahami hakikat ikhlas tersebut, yaitu orang orang yang marah jika amalnya dikritik diberi masukan agar profesional bekerja, dengan kalimat klasik mereka menjawab; “saya ikhlas melakukannya, jangan sok tahu kamu”.

Mudah-mudahan semakin banyak kita yang sadar terhadap hakikat ikhlas, sehingga jebakan riya semakin jauh dari kita. Insya Allah. ***

Drs H Iqbal Ali, MM adalah Ketua Dewan Pembina Ikatan Keluarga Minang Riau (IKMR) dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik Persada Bunda 2008 - 2016.

Kategori:Opini
wwwwww