Wartawan Itu tidak Penting

Jum'at, 10 November 2017 10:56 WIB
Penulis: Hermanto Ansam
Wartawan Itu tidak PentingHermanto Ansam
BILA Kalian Ingin Menjadi Pemimpin Besar, Menulislah Seperti Wartawan, Bicaralah Seperti Orator (HOS Tjokroaminoto)

Istilah yang disampaikan oleh pahlawan nasional, HOS Tjokroaminoto itu telah melahirkan banyak para pemimpin pergerakan Indonesia sebelum dan sesudah Kemerdekaan tahun 1945. Banyak para pemimpin pergerakan terinspirasi dengan kalimat itu, diantaranya adalah -- dua diantara ribuan anak muridnya -- Soekarno dan Tan Malaka.

Soekarno adalah orang yang meyakini kalimat itu dengan lebih memfokuskan pada kata orator, meski dia juga jago menulis. Soekarno memang tidak pernah menjadi wartawan, tapi tulisan-tulisannya memiliki nilai-nilai yang tinggi, yang menjadi warisan bagi kita semua. Tulisannya meliputi semua hal, tentang agama, nasionalisme, kebangsaan, sosialisme dan semua hal tentang Indonesia. Tulisan Soekarno disusun dengan kata-kata yang indah dan realistis sesuai zamannya.

Selain Soekarno, Tan Malaka -- salah seorang dari tiga pendiri Republik Indonesia (bersama Soekarno dan Hatta) -- juga murid HOS Tjokroaminoto yang meyakini kalimat itu. Tan Malaka yang namanya sempat dihilangkan pada era Orde Baru sehingga nama itu hilang dari seluruh buku pelajaran sejarah Indonesia, juga menjadikan istilah itu sebagai inspirasi untuk menulis dan orator. Namun berbeda dengan Soekarno, Tan Malaka lebih memilih hidup sebagai wartawan. Namanya beberapa kali menjadi wartawan di beberapa media Indonesia, Filipina, Belanda hingga China. Karya-karya Tan Malaka dalam buku dan tulisannya sangat banyak, enak dibaca dan juga menginspirasi kaum pergerakan di zamannya. Namun meski jago menulis, Tan Malaka juga sebagai orator, meski tidak sehebat dan sedahsyat Soekarno dalam berpidato.

Kalimat HOS Tjokroaminoto itu sebenarnya mengambil kondisi saat itu, dimana banyak wartawan jago menulis, Tulisannya runut, sistematis dan enak dibaca. Di eranya, HOS Tjokroaminoto, belum pernah melihat ada wartawan yang tidak bisa menulis, dia juga tidak melihat ada wartawan yang menulis seperti orator alias tulisannya lompat-lompat dan tidak sistematis. Kondisi dulu dan sekarang tentu berbeda, suasana spiritualnya juga tentu tidak sama.

Namun melihat istilah yang dipakai HOS Tjokroaminoto itu, kita yakin, yang dimaksud kata wartawan pada era itu adalah seseorang yang jago menulis, tulisannya enak dibaca, sistematis, dan menggunakan bahasa-bahasa yang melahirkan selera untuk memelototinya.

Namun juga perlu diingat, bahwa kalimat HOS Tjokroaminoto itu, bukanlah sebuah ajakan untuk menjadi wartawan, karena sebelum kata wartawan ada kata ''seperti'', artinya meniru kerjanya wartawan dalam menulis. Karena itu, kata wartawan pada kalimat HOS Tjokroaminoto bukanlah sebuah seruan untuk menekuni profesi wartawan bagi para pemimpin masa depan, tapi lebih kepada ajakan untuk menulis dengan alur yang sistematis, runut, enak dibaca dan mudah dipahami.

Karena itu, bukanlah sesuatu yang penting seseorang menjadi wartawan, karena yang diutamakan adalah kemampuan menulis ''seperti wartawan''. Karena itu, pemimpin besar seharusnya memiliki kemampuan menuliskan apa yang ingin ditulis dengan bahasa yang benar dan jelas, sehingga apa yang ingin disampaikan bisa dipahami oleh pembaca, apa yang ditulis tidak melahirkan multi tafsir, apa yang diketik tidak menjadi beban pikiran banyak orang.

Menjadi seperti wartawan bisa diartikan melakukan aktifitas menulis secara terus menerus. Menulis tidak memerlukan gelar, siapa saja bisa, yang penting adalah menulis dengan kebenaran dan kejujuran. Wartawan adalah orang yang menjalankan aktifitas kewartawannya dengan terus menerus, dia juga bukan gelar yang diberikan ataupun dikukuhkan dalam sebuah kartu atau sertifikat.

Di zaman now, zaman yang penuh dengan kemajuan teknologi informasi, apa yang disampaikan HOS Tjokroaminoto, menurut hemat penulis, masih sangat relevan. Kita membutuhkan para pemimpin yang mampu menuliskan pemikirannya dengan benar, mengungkapkan apa yang ingin dijelaskannya dengan cerdas namun tidak melahirkan multi tafsir. Sehingga apa yang dituliskan tidak menimbulkan perpecahan bahkan menjadi sengketa hukum.

Begitu pula sekolah-sekolah, seharusnya juga mengajarkan anak-anak menulis dengan baik, menulis yang sistematis sehingga Indonesia juga bisa melahirkan banyak pemimpin besar yang cerdas, yang mampu menerjemahkan pemikirannya dalam bentuk tulisan dengan benar. Tidak penting nantinya anak didik akan menjadi wartawan ataupun tidak.

Pada kalimat itu, kita juga melihat ada kata orator menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan kata ''seperti wartawan'' bagi seorang pemimpin. Artinya, dua kecakapan itu, sebenarnya dibutuhkan sejalan, bukan bergerak sendiri-sendiri. Karena itu, dua keahlian itu merupakan satu kesatuan yang harus dimiliki seorang pemimpin. ***

Penulis adalah Pemimpin Umum GoRiau.com dan GoNews Group

Kategori:Opini
wwwwww