Negeri yang Minus Rasa Malu

Rabu, 25 Oktober 2017 07:24 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali, MM
Negeri yang Minus Rasa MaluH Iqbal Ali
SUDAH banyak tulisan yang mengangkat topik tentang rasa malu dan sepertinya tidak ada pengaruh dan manfaat tulisan tersebut. Dengan niat baik yang penuh harapan kita coba lagi menulis topik yang sama.

Kita tahu bahwa Islam menempatkan akhlak pada posisi yang tinggi sesuai dengan tugas utama Rasulullah yaitu untuk memperbaiki akhlak umat manusia. Salah satu wujud akhlak adalah rasa malu dimana semua agama mempunyai ajaran akhlak dan akhlak islam adalah rasa malu.

Adapun pengertian malu menurut Islam yaitu; Sikap  manusia yang takut terhadap perbuatannya yang menyebabkan tercela oleh pihak lain terhadap dirinya. Cakupan malu sama dengan akhlak yaitu; malu terhadap allah, malu terhadap keluarga, malu terhadap masyarakat, malu terhadap diri sendiri  dan lingkungan.

Malu yang paling tinggi nilainya adalah malu terhadap Allah. Banyak  pesan2 agama menyebutkan: ''Malu itu  sebagian dari Iman'' (hr. Bukhari dan Muslim). ''Jika mempunyai rasa malu, semuanya akan jadi baik” (hr. Bukhari dan Muslim) “Apabila tidak punya rasa malu lagi, berbuatlah sekehendakmu'' (hr. Bukhari).

Dengan demikian Islam dengan tegas mengingatkan bahwa benteng terkuat untuk menghambat segala kemungkaran adalah rasa malu. Justru inilah yang merisaukan kita karena  dinegeri kita ini rasa malu itu betul-betul semakin jauh alias minus.

Artinya, di negeri yang pemeluk islamnya terbesar didunia, perbuatan-perbuatan mungkar sudah begitu meluas dan masif dibandingkan kegiatan-kegiatan makruf.

Kita ikuti fakta-fakta berikut ini sekedar menguatkan tesis kita tentang rasa malu :  Orang tak malu setelah membuat gaduh lalu pergi umrah. Orang tak malu pakai baju oranye KPK, masih saja ketawa-ketawa dan sumringah. Orang tak malu berjilbab tapi korupsi. Ia tokoh Isam sekaligus ketua partai Islam tapi dipenjara. Orang tak malu berpakaian setengah telanjang di muka umum.

Orang tak malu berbohong demi nafsu dan kekuasaan. Orang tak malu telah dipecat oleh organisasinya masih saja berkoar-koar. Orang tak malu meniru-niru budaya asing pada hal budaya Indonesia begitu baik dan dikenal. Orang tak malu pamer harta di depan umum padahal didapat dengan cara  yang tak halal. Orang tak malu selingkuh, narkoba mabuk-mabukan. Orang tak malu didemo, dihujat dikritik lisan maupun tulisan. Orang tak malu ngomong besar produktifitas nol. Orang tak malu titel akademisnya banyak padahal ia orang super sibuk entah kapan kuliah dan penelitiannya. Banyak lagi tak malu tak malu lainnya, silahakan tambah dan begitulah dinegeri kita  betul betul minus rasa malu.

Meskipun malu merupakan naluri manusia namun dalam prakteknya  memerlukan usaha, ilmu dan niat. Mari kita berusaha terus dengan ilmu dan niat yang tepat sehingga sikap dan perilaku kita dilandasi rasa malu InsyaAllah  semua akan berlangsung dengan baik. Jika tidak  kita akan nikmati segala akibat dari minus rasa malu itu dalam kehidupan masing-masing.

Selaku mukmin sejati tak ada alasan untuk tidak punya rasa malu, ingat malu itu bagian dari iman dan benteng terkuat  menghadang segala kemungkaran adalah punya rasa malu. Wallahu a’lam.***

Iqbal Ali adalah Ketua Dewan Pembina IKMR Provinsi Riau dan Mubaligh IKMI Riau.

loading...
Kategori:Opini
wwwwww