Opini

Pengaruh Demografi Pada Pilkada

Pengaruh Demografi Pada Pilkada
Bagus Santoso
Selasa, 02 Mei 2017 20:59 WIB
Penulis: Bagus Santoso
MUSIM Coblosan di Indonesia tidak pernah trek seperti panen buah sawit. Sambung menyambung dan tak akan berhenti. Selesai pilihan presiden, lanjut pilihan legislatif lalu bupati, walikota. Belum lagi turun tensi politik, khusus di Riau sekarang kembali panas dingin menghadapi pertarungan sengit memperebutkan kursi Gubernur.
Aktititas para bakal calon Gubernur terbaca sangat agresif. Acara sekecil kenduri khitanan tak luput jadi rebutan. Media turut memicu sumbu kompor 'api' memanaskan tungku pilkada.

Dalam satu hari bersamaan diketahui dari media; Harris ikut tablig akbar, Yopi Arianto petarung muda cekatan menaiki becak motor di Selatpanjang. Syamsuar senang memperoleh gelar Kanjeng dari karaton Solo.

Andi Rachman asyik menanam jagung di Kampar, Syamsurizal mantan Bupati Bengkalis aktif mengirimkan foto-foto kegiatannya lewat group WA Riau Bicara dibawahnya ditulis keterpaduan tim Bengkalis.

Ads
Begitu juga Achmad dan Lukman Edy tidak ketinggalan Indra Muklis yang dikabarkan sudah mengumpulkan sejuta lebih foto copy dukungan untuk tiket jalur Independen. Aroma adu kuat balon gubernur Riau sudah sangat kentara.

Melihat data Laporan Survey Provinsi Riau dari LSI network bulan maret 2017 terkait dengan coblosan gubernur pada tahun depan 2018, menyimpulkan pada saat sekarang mayoritas masyarakat belum menentukan pilihan dan tidak ada satupun calon yang sudah kuat. Bermakna mereka yang serius atau tidak serius sekalipun - apalagi yang sudah pasang niat maju balon gubernur punya peluang yang sama.

Provinsi Riau berdasarkan DPT Pilpres 2014, terdiri dari 10 kabupaten, 2 kota, terdiri dari 163 kecamatan, 1.773 desa/kelurahan dengan penduduk 5,3 juta jiwa dan 1.386.788 kepala keluarga.

Data teranyar pada buku pidato pengantar laporan keterangan pertanggungjawaban kepala daerah tahun 2016 yang disampaikan Gubernur Riau tanggal 23 Maret tahun 2017 disebutkan penduduk Riau meningkat 2.47 persen dari 6.344.402 jiwa tahun 2015, tahun 2016 naik menjadi 6.500.971 jiwa. Pertumbuhan penduduk di Riau masuk dalam kategori tinggi.

Jumlah pemilih tetap pada pemilihan presiden dari data KPUD Provinsi Riau adalah 4.208.306, dan DPT pileg tahun 2014 adalah 4.079.054 dengan TPS sebanyak 12.469. Dengan sebaran pemilih Bengkalis 380.273, Inhil 510.299, Inhu 291.498, Kampar 540.840, Kep Meranti 140.464, Dumai 199.807, Pekanbaru 627.212, Kuansing 230.056, Pelalawan 241.295, Rohil 417.023, Rohul 351.090 serta Siak 274.449.

Berkaca pada pemilihan Gubernur Riau tahun 2013 pada putaran kedua, pasangan Annas Mamun Andi Rachman menjadi pemenang hanya dengan 1.3 jutaan suara. Sedangkan Herman Abdullah - Agus Widayat 854 ribuan. Maknanya pemilih yang datang mencoblos cuma separuh lebih sedikit dari DPT atau sekitar 2.1 juta.

Jika pada pilihan Gubernur tahun 2018 nanti ada 4 pasang calon dengan pemilih lebih kurang sama dengan pemilihan Gubernur tahun 2013. Dan masing-masing pas angan memperoleh rata-rata 500 ribuan suara. Maka pasangan calon dengan perolehan 500 ribu plus satu hitungannya sudah menang.

Peta Demografi

Setiap pilkada peta demografi atau kependudukan menjadi alat penting untuk strategi meraih kemenangan. Agama, suku, daerah, dan migrasi merupakan faktor demografi yang digunakan untuk mempengaruhi pemilih dalam helat pilkada.

Demografi atau Kependudukan pada Wikipedia disebut sebagai ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Demografi meliputi ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.

Salah satu contoh teori adanya pengaruh demografi dengan pilkada dikemukakan pada seminar ''Analisis Demografis Pilkada di Indonesia'' yang diselenggarakan Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan (PSKK) UGM, dua bulan jelang pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta.

Menurut dosen Komunikasi Fisipol UGM, Kuskridho Ambardi, faktor demografi, disebutkan memegang peran penting dalam pilkada. Hanya saja, faktor demografi tersebut tidak cukup untuk memenangkan pilkada.

Kampanye berbasis agama dan suku dapat meningkatkan dukungan. Namun, hal itu tidak dapat meningkatkan perolehan suara secara signifikan. Hanya saja teori ini terbantahkan pasca pilkada DKI Jakarta putaran kedua yang terbukti faktor agama berpengaruh sangat besar memenangkan pasangan Anis Sandi. Pasangan Ahok Jarot, meski yang non muslim Ahok, Jarot muslim berakhir dengan kekalahan telak yang tidak dapat diprediksi oleh lembaga survey.

Agama dan suku menjadi isu yang banyak dan sering digunakan setiap musim pilkada. Demokrasi nyatanya mengagungkan dominasi. Sebaliknya, sosial ekonomi menjadi isu yang jarang digunakan dalam kampanye. Mengangkat kelas sosial dianggap tidak seksi kurang menjadi isu yang diminati para kandidat.

Sementara di luar Pulau Jawa, isu kesukuan atau etnis, merupakan faktor demografi yang paling banyak ditonjolkan dalam pilkada. Meski pada faktanya antara teori dan kenyataan tidak sebangun, buktinya kepala daerah terpilih meleset dari syarat sesuai teori diatas kertas. Karena agama dan suku masih menjadi alat yang mudah untuk menggiring sentimen pemilih.

Fenomena ini, berbeda dengan yang terjadi di tingkat nasional. Faktor demografi ternyata tidak berpengaruh dalam pemilihan presiden atau pilpres. Pasangan SBY Boediono sama-sama dari Jawa Timur ternyata jadi presiden. Faktor demografi boleh jadi berpengaruh terhadap pilkada, tetapi tidak di tingkat nasional.

Mari kita berhitung untuk menyambut helat pilkada Gubernur Riau. Demografi Riau berdasarkan data Wikipidea terdapat suku Melayu 33,02 persen, Jawa 29,03 persen, Batak 12.08 persen, Minangkabau 12,22 persen, Banjar 4,10 persen, Tionghoa 1,83 persen, Bugis 1,93 persen serta lain- lain 1,39 persen.

Sedangkan berdasarkan agama sebagai berikut; Islam 87,98 persen, Kristen 8,76 persen, Buddha 2,06 persen, Katolik 0,86 persen, Konghucu 0,07 persen, Hindu 0,02 persen dan lain- lain 0,04 persen.

Mencatat dari hasil pilkada di DKI Jakarta faktor wilayah tidak berpengaruh banyak mengubah pilihan. Terbukti semua wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur, selatan dan utara disapu bersih oleh Anis Sandi. Jika demikian apakah dengan mendikotomikan Riau Pesisir dan Riau Daratan akan mempengaruhi pilihan. Kalau kejadiannya seperti di DKI Jakarta maka jawabnya sama sekali tidak. Justru agama dan etnis yang menumbangkan Ahok. ***

Bagus Santoso adalah Anggota DPRD Provinsi Riau

loading...
Kategori:Opini
wwwwww