Bulan Rajab dalam Persfektif Alquran dan Sunnah

Kamis, 06 April 2017 08:33 WIB
Bulan Rajab dalam Persfektif Alquran dan SunnahTgk H Luthfi Arongan (Ayah Panti)

Oleh Tgk H Luthfi Arongan (Ayah Panti)

Rajab merupakan salah satu bulan yang mulia dan terdapat kelebihan tersendiri di sisi Allah SWT. Dia telah menciptakan alam dan isinya serta menjadikan dalam setahun dua belas bulan yang merupakann sunnatullah (ketetapan Allah) kepada hamba-Nya.

Di antara dua belas bulan tersebut salah satu bulan yang mempunyai kelebihan dan kemuliaan bernama Rajab. Bulan ini terletak di antara bulan Jumaial Akhir dan bulan Sya’ban. Dalam klasifikasi bulan haram, bulan Rajab di dalamnya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT berbunyi: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. At Taubah: 36).

Dalam kitab Tafsir Ibnu Kasir dalam menafsirkan ayat di atas menyebutkan bahwa Imam Ahmad berkata, Isma’il telah bercerita kepada kami, Ayyub telah mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Sirin memberitahu kami, dari Abi Bakrah, bahwasanya Nabi Saw menyampaikan khutbah pada saat haji, seraya bersabda: “Ketahuilah, bahwa zaman berputar seperti keadaannya pada saat Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan-bulan suci, tiga berurutan; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudharr yang berada di antarajumadi dan Sya’ban.

Setelah itu beliau Saw, bertanya: “Hari apa ini?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Lalu beliau terdiam, hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan nama yang lain. Beliau berkata: “Bukankah (ini) hari penyembelihan hewan kurban?” Kami menjawab: “Ya.”

Kemudian beliau bertanya: “Bulan apa ini?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau terdiam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan nama yang lain. Beliau bertanya: “Bukankah (ini) bulan Dzulhijjah?” Kami menjawab: “Ya.”. Kemudian beliau bertanya: “Negeri apa ini?” Kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau terdiam hingga kami mengira beliau akan menamainya dengan nama yang lain. Beliau bertanya: “Bukankah negeri ini (negeri Haram)?” Kami menjawab: “Ya.”

Beliau bersabda: “Sesungguhnya darah, harta, dan aku mengira beliau mengatakan dan kehormatanmu diharamkan atas kamu seperti diharamkannya hari ini, di bulan ini, di negerimu ini. Kamu akan bertemu dengan Rabbmu dan Allah akan bertanya tentang perbuatanmu. Ingatlah, jangan sampai setelah aku wafat, kamu kembali kepada kesesatan, kamu saling membunuh. Ingatlah, bukankah aku sudah menyampaikan? Ingatlah, yang hadir saat ini hendaknya menyampaikan kepada yang tidak hadir, mudah-mudahan (terkadang) orang yang menyampaikan lebih faham daripada sebagian orang yang mendengar.” (Tafsir Ibnu Kasir, Ibnu Kasir,) 

Dalam menjelaskan ayat di atas Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya zaman itu berputar seperti keadaanya semula sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dan sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan dalam ketetapan Allah Description: azza di saat Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara 12 bulan itu, empat di antaranya adalah bulan haram (suci dan agung); tiga di antaranya berturut-turut yaitu bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharam sedangkan yang satu lagi terpisah yaitu bulan Rajab, terletak di antara bulan Jumadai dan bulan Sya’ban.”

Editor:Kamal Usandi
Kategori:Opini
wwwwww