Opini

HPN 2017 di Maluku dan NKRI

Jum'at, 27 Januari 2017 20:01 WIB
Penulis: H Mulyadi
HPN 2017 di Maluku dan NKRIH Mulyadi

HARI Pers Nasional (HPN) 2017 berlangsung di Provinsi Maluku pada tanggal 9 Febuari, yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, para menteri dan sejumlah pejabat. Pada peringatan HPN ini ditampilkan keutuhan budaya, kekayaan  alam dan kemajemukan.

Provinsi Maluku memiliki potensi kekayaan alam yang luar biasa. Berbagai hasil rempah seperti cengkeh dan pala merupakan keuggulan yang luar biasa. Karena itu, sejak abad ke-16 Masehi, Maluku diperebutkan oleh bangsa-bangsa Eropa yang hendak menguras rempah-rempah. Bangsa-bangsa Eropa saling berebut menjelajah wilayah perairan Maluku dan sekitarnya.

Tercatat bangsa-bangsa yang datang ke wilayah Maluku misalnya Portugis, Inggris, Belanda dan Spanyol. Bangsa-bangsa Eropa yang sebagian besar terdiri dari pelaut dan pedagang mengarungi perairan Indonesia guna mencari rempah-rempah. Karena harga rempah-rempah sangat mahal dan di cari di Benua Eropa, maka terjadi lah persaingan sesama mereka. Sementara masyarakat Maluku merasakan penindasan perampasan kekayaan alam dari bangsa Eropa.

Wilayah Maluku menjadi rebutan dan silih berganti. Mula-mula Portugis, kemudian Inggris dan Belanda. Namun Belanda yang paling lama menguasai Maluku. Sejak tahun 1618 Masehi, Maluku menjadi pusat VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Selain itu menjadi benteng pertahanan antara Belanda dan Sekutunya.

Di wilayah seperti Morotai dan Kao masih dapat disaksikan beberapa bekas peralatan perang. Sebelum Maluku terpecah menjadi dua provinsi, pulau ini sangat di kenal dengan nama Ternate dan Tidore yang dijuluki pulau rempah-rempah (Spice Islands).

Ternate juga mempunyai peninggalan sejarah kesultanan yang merupakan lambang keunggulan Bangsa Maluku. Ada peninggalan berupa Makhota Sultan Tidore yang dihiasi permata bernilai tinggi. Diantara hiasan itu terdapat rambut yang unik, karena rambut tersebut bisa memanjang seperti rambut pada kepala manusia.

Provinsi Maluku kini terpecah menjadi 2 Provinsi. Keunikan wilayah ini, memiliki pantai yang indah dan laut berwarna biru. Selain itu bagi mereka yang naik pesawat terbang saat mendarat di Ambon, keindahan wilayah sekitarnya benar-benar menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri. Apalagi jika menyaksikan Gunung Salahutu yang menjadi salah satu ciri keunikan Wilayah Maluku.

Pada tahun 1951 Maluku dilanda prahara dengan timbulnya pemberontakan yang menyebut dirinya Republik Maluku Selatan (RMS). Pendiri dari gerakan separatis ini adalah Dokter Soumukil dan diikuti oleh pengikutnya dengan jumlah yang tidak terlalu besar. Namun kelompok ini ingin melepaskan diri dari NKRI. Namun demikian gerakan separatis ini, cukup mengganggu keamanan masyarakat setempat. Kemudian pada saat itu, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Kolonel Abdul Haris Nasution mengirim pasukan untuk menumpas pemberontakan RMS tersebut.

Sebagai komandan pasukan yang menghadapi para pemberontak adalah Mayor Slamet Rijadi. Ia bersama pasukannya mampu memukul mundur gerakan RMS. Gerakan RMS hanya bertahan satu tahun lebih, semakin lama kekuatan separatis makin berkurang. Karena operasi militer dilakukan guna menumpas habis sisa-sila pasukan RMS.

Namun peristiwa tragis terjadi, saat pertempuran di Benteng Victoria Ambon yang menewaskan Slamet Rijadi. Almarhum yang berpangkat Mayor, dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Kolonel. Pengamat militer Atmadji Sumarkidjo dalam percakapan mengatakan, pasukan yang dipimpin Slamet Rijadi merupakan cikal bakal RPKAD yang sekarang disebut Kopassus. ‘’Pertempuran di Benteng Victoria merupakan kisah heroik", ujarnya memberi komentar.

Provinsi Maluku merupakan Provinsi yang mengandung nilai sejarah tinggi. Mulai dari abad ke 16 sampai terjadinya peristiwa RMS, selalu dilanda pertikaian. Akan tetapi pada periode tahun 60-an Maluku merupakan gudangnya Atlet di Indonesia. Beberapa pemain sepakbola seperti Hengky Timisela dan Max Timisela merupakan atlet sepakbola Ambon yang terkenal dengan prestasinya.

Selain itu ada pesepak bola nasional bernama Bob Hippi yang juga atlet sepakbola kebanggan Indonesia. Ia pemain sepak bola yang berposisi penyerang. Meskipun ia berasal dari Gorontalo, tetapi kiprahnya di dunia pesepakbolaan tidak luput dari lingkungan orang-orang Ambon.

Maluku mempunyai pula sejumlah petinju yang terkenal, antara lain Wiem Gommies dan tentu saja yang tidak boleh di lupakan adalah juara dunia yaitu Ellyas Pical. Masih ada contoh-contah lain prestasi anak-anak Maluku yang mengharumkan nama Indonesia. Selain dibidang olahraga anak-anak Maluku tidak lepas dari bakat seni dan musik. Apalagi sejak lama banyak dikenal tokoh-tokoh musik dan penyanyi seperti Bob Tutupoli, Broery Pesulima, Glenn Fredly, Melly Goeslaw dan lain-lain. Sebagian besar masyarakat Maluku mempunyai bakat menyanyi dan musik. Sehingga muncul adagium, kalau ada orang Maluku tak bisa bernyanyi kurang lengkap ‘’jati dirinya’’.

Memperingati HPN 2017 merupakan cermin perpaduan antara budaya dan masyarakat. Karena di Provinsi Maluku bermukim pula etnis lain yang memperkaya khasanah Maluku. Dengan memperingati  HPN 2017 ini, semoga menjadi momentum dalam memperkokoh persatuan NKRI. Demikian pula dengan para insan pers, dituntut supaya lebih profesional dalam menjalankan tugas jurnalistiknya. *** 

H Mulyadi adalah wartawan senior, tinggal di Pekanbaru

Kategori:Opini
wwwwww