Opini

Ibu Si Pencetak Generasi Cemerlang; Jika ?

Selasa, 29 November 2016 12:57 WIB
Penulis: Yana Sri Wahyuni
Ibu Si Pencetak Generasi Cemerlang; Jika ?Yana Sri Wahyuni

ISLAM adalah agama yang sempurna. Kesempurnaannya dapat dilihat dari dalil-dalil syara’ yang menjelaskan bahwa islam adalah agama yang sempurna. “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agamamu.”. (QS. Al-Maidah [5] : 3).

Islam diturunkan dengan seperangkat aturan yang lengkap yang tertera didalam kitab suci Al-Qur’an. Rasulullah diutus oleh Allah sebagai pembawa risalah islam yang mulia. Tiada kemuliaan yang bisa didapatkan tanpa hadirnya islam ditengah-tengah kehidupan. Islam sesuai dengan fitrah manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Keduanya sama dalam pandangan islam. Perbedaan antara keduanya adalah dilihat dari ketaqwaan dan status mereka sebagai hamba Allah yang mempunyai kodratnya dan tugas masing-masing.

Begitu mulianya perempuan dalam islam. Perempuan hanya mempunyai dua tugas pokok yaitu menjadi ummu wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga). Tidak ada kewajiban mencari nafkah bagi perempuan. Sesungguhnya mencari nafkah adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh laki-laki. Allah Maha Mengetahui kadar kemampuan hambanya dan Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya sehingga semua yang telah menjadi ketetapan Allah, maka itulah yang terbaik.

Perempuan pasti cepat atau lambat akan menjadi seorang ibu. Ibu adalah madrasah ula bagi anak-anaknya. Tempat dimana anak-anak mendapatkan pengajaran pertama kali dalam proses tumbuh kembangnya. Baik-buruknya perilaku seorang anak dipengaruhi besar oleh pendidikan pertama kali yang ia dapatkan. Islam menjadikan perempuan sebagai sosok yang mulia dengan tidak membebankan kewajiban mencari nafkah bagi keluarganya. Dengan demikian, perempuan lebih fokus dan dapat mengerahkan segala daya upaya dalam mendidik anak-anaknya sehingga akan terbentuk generasi-generasi cemerlang penerus estafet perjuangan negeri ini. Kehadiran ibu sangat berharga bahkan melebihi intan permata sekalipun. Tidak ada yang bisa menggantikan figur seorang ibu dimata anak-anaknya.

Selain itu, perempuan juga harus mempunyai ilmu yang tinggi untuk menjadi penuntun dalam mendidik anaknya. Maka keliru, jika menganggap bahwa perempuan tidak layak menempuh jenjang pendidikan yang tinggi dengan anggapan bahwa perempuan akan kembali menjadi seorang ibu rumah tangga yang akan mengurusi kasur, dapur dan sumur saja. Anggapan tersebut muncul dari paradigma kesalahan berfikir sekarang. Begitu banyak perempuan yang mementingkan karir di dalam dunia pekerjaan daripada mengasuh anak dirumah. Menitipkan anak-anak mereka dengan pengasuh anak dengan harapan anak mereka dapat aman dan tumbuh kembang dengan baik. Sejatinya tidak demikian, karena pada hakikatnya tidak ada satupun anak yang rela dititipkan dan diasuh dengan orang lain. Di lain sisi ibunya lebih memilih pekerjaan daripada mengasuh anak.

Tidak asing lagi jika saat ini sering terdengar kenakalan remaja terjadi dimana-mana, seperti pergaulan bebas, narkoba, berjudi, tawuran, nonton video porno dan masih banyak lagi tingkat kenakalan remaja yang terjadi. Semua ini terjadi karena anak tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seorang ibu yang seharusnya mereka rasakan. Bukan hanya materi yang dibutuhkan. Materi hanya mengalihkan perasaan anak secara semu dan materi tidak bisa menggantikan perhatian dan kasih sayang seorang ibu. Maka tidak heran jika sekarang banyak ditemukan remaja-remaja mencari kasih sayang dengan cara yang salah. Aktivitas pacaran dianggap sesuatu yang lumrah. Aktivitas yang tidak dilandasi atas keimanan melainkan hanya nafsu belaka akan mengakibatkan bahaya yang besar, bisa jadi sampai melakukan hubungan pra-nikah akibatnya hamil diluar nikah bahkan tak sedikit ditemukan remaja nekat melakukan aborsi. Sungguh miris kehidupan remaja saat ini yang dilatarbelakangi karena kurangnya perhatian dari keluarga dan Negara yang acuh terhadap kasus saat ini.

Kejadian-kejadian tersebut dipicu karena tidak didapatkannya hak mereka sebagai seorang anak. Didukung oleh tidak adanya Negara yang mampu mengatasi permasalahan-permasalahan seperti ini. Negara yang seolah-olah tidak melihat, tidak mendengar dan tidak mau angkat bicara (bisu) terkait permasalahan kenakalan remaja saja yang marak terjadi saat ini. Negara seharusnya mampu mengontrol dengan bijak dan mampu menyelesaikan permasalahan ini dengan cepat sehingga tidak menambah korban-korban selanjutnya. Memberikan aturan sesuai aturan islam untuk diterapkan dan memberikan sanksi tegas sesuai pelanggaran yang dilakukan. Karena sesungguhnya tidak ada aturan yang lebih sempurna daripada aturan yang berasal dari sang pencipta jagad raya ini. Dialah Allah swt.

Sangat berbeda dengan islam. Ketika islam menjadikan perempuan sebagai ummu wa rabbtul bait, maka perempuan akan mengabdikan dirinya untuk keluarganya. Menjaga, mengasuh dan mendidik anak dengan baik. Walaupun demikian islam tidak mengkungkung perempuan hanya sebatas tugas utama mereka. Kebolehan wanita bekerja dalam islam merupakan bukti bahwa islam tidak membatasi perempuan dalam beraktivitas. Islam juga mewajibkan kepada perempuan untuk melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar. Dalam hal ini, maka kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang laki-laki dan perempuan adalah sama, yaitu melakukan aktifitas dakwah, mengoreksi penguasa dan mengurusi urusan umat. Tetapi, perlu diingat bahwa kewajiban utama perempuan adalah sebagai ummu wa rabbatul bait tanpa meninggalkan kewajiban yang lain. Artinya, seorang perempuan tetap menjalankan aktifitasnya diluar rumah.

Islam sangat membantu perempuan dalam memegang peranan pentingnya sebagai seorang ibu yang memiliki tanggung jawab yang besar terhadap keharmonisan keluarganya. Jika tidak berlandaskan islam, bisa dilihat faktanya saat ini. Bahwasannya perempuan sangat jauh dari peran utamanya sebagai ummu wa rabbatul bait. Hasilnya adalah tidak terciptanya generasi-generasi cemerlang penerus estafet perjuangan dakwah islam ini. Ketika aturan islam diterapkan, maka nampaklah fakta yang jelas dihadapan kita. Fakta berupa terbentuknya generasi-generasi cemerlang seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Razi dan masih banyak lainnya.

Jika dikaji lebih dalam, keberhasilan seorang Ibnu Sina misalnya tidak lepas dari peran seorang ibu yang luar biasa tentunya dan Negara yang memberikan dukungan penuh dengan menyediakan fasilitas yang lengkap sesuai apa yang dibutuhkannya sehingga dapat melancarkan penelitiannya dalam menemukan temuan baru. Umur 18 tahun sudah menjadi seorang ahli dokter dan buku yang diciptakannya digunakan oleh seluruh Negara Eropa hingga saat ini. Selain itu, ia juga seorang faqih fid diin.  Sungguh luar biasa bukan ?

Sadarlah, bahwa generasi-generasi cemerlang tersebut muncul karena mereka berada dibawah aturan islam. Sehingga setiap aktivitas yang mereka lakukan semata-mata hanya untuk meraih ridho Allah. Begitu juga dengan perempuan, tugas mulianya akan terlaksana dengan maksimal jika ada sebuah Negara yang menerapkan aturan islam secara kaffah. Dengan demikian, tidak akan ditemukan perempuan-perempuan yang lalai akan tugas utamanya. Hingga akhirnya akan terbentuk generasi-generasi cemerlang pendobrak peradaban kelam saat ini. ***

Yana Sri Wahyuni adalah mahasiswa Jurusan Agroteknologi UIN Suska Riau

Kategori:Opini
wwwwww