Opini

Trump dan Kecemasan (Berlebihan) Kita

Rabu, 16 November 2016 11:00 WIB
Trump dan Kecemasan (Berlebihan) KitaRhenald Kasali

Oleh : Rhenald Kasali

KETIKA Rabu siang (9/11) Donald Trump dinyatakan sebagai pemenang pilpres Amerika Serikat (AS), sebagian kita cemas. Lusinan pesan WhatsApp (WA) dan Line masuk ke smartphonesaya. Saya kutipkan beberapa di antaranya yang mungkin juga diterima Anda.

Website Kedutaan Kanada sampai hang akibat banyaknya permohonan dari warga AS untuk pindah ke negara itu.”

For the four next year, avoid America.

Apply visa ke AS sekarang. Sebentar lagi bakal dipersulit. Apalagi, Indonesia negara muslim terbesar di dunia.”

”Wah, Amerika bakal kacau.”

”Mengapa negara sebesar AS mesti dipimpin oleh Donald Duck.”

”Jangan simpan dolar AS.”

”Beberapa staf di Kedubes AS di Jakarta menangis.”

Oh ya, ada juga pesan berupa gambar. Di antaranya, gambar tentang Melania Trump sewaktu masih menjadi foto model. Anda tahulah kira-kira seperti apa gambarnya. Di situ disertai teks: ”Inilah first lady Amerika Serikat yang baru.”

Masih banyak lagi. Semuanya bernada miring. Saya tersenyum geli ketika menerima pesan-pesan tersebut. Saya kira Anda, dan juga para pengirim pesan tersebut, masih tidak percaya dan belum bisa menerima bahwa Trump memenangi pilpres AS. Apalagi, sebelumnya nyaris semua lembaga survei di AS menyatakan Hillary Clinton bakal menang.

Kita juga pernah punya pengalaman serupa di negeri ini. Tampaknya, dibutuhkan waktu panjang untuk mengobati ”luka” di hati saat ”jagoan” dikalahkan. Ada yang mengatakan itu hasil kecurangan, ada juga yang bilang kelicikan. Setelah itu, pesan berantai di medsos tak pernah habisnya berisi umpatan.

Tapi, begitulah. Baik itu di sana maupun di sini, hati manusia tetap sama. Keputusan juga sama. Kita tentu harus legawa, menerimanya, suka atau tidak suka.

Sosok Pebisnis

Saya tahu, semasa kampanye pilpres di AS, banyak dari Anda yang terjebak dengan materi dan gaya kampanye Trump. Dia membangun citra diri sebagai sosok yang kontroversial. Nasional, tapi sekaligus juga chauvinist. Dia juga rasis dan sangat arogan, pedas dan menyakitkan. Skandalnya ada di sana-sini. Semua memberikan kesan bahwa Trump tak layak menjadi presiden AS. Dia bahkan dianggap sebagai public enemy. Bukan hanya oleh sebagian warga AS, tapi juga masyarakat dunia.

Hanya satu hal yang mungkin kita lupa, Trump adalah pebisnis, dan pemain watak televisi, bukan politikus. Kalau sebagai politikus, dia mungkin tak mau tampil dengan citra seperti di atas. Sebagai pebisnis-kapitalis, dia tampaknya punya sudut pandang yang lain. Maksud saya, citra diri yang semacam itu –arogan, kontroversial, rasis, dan lain lain– justru membuatnya jadi terlihat berbeda bila dibandingkan dengan pesaingnya. Semacam diferensiasi.

Editor:Munawir Tahir
Sumber:http://www.jawapos.com
Kategori:Opini
wwwwww