Opini

Ketika Kejujuran Tidak Lagi Berbuah Keadilan

Ketika Kejujuran Tidak Lagi Berbuah Keadilan
Senin, 14 November 2016 18:11 WIB
Penulis: Andi Tenri Risky

Andi Tenri Risky

Akhir-akhir ini, sangat nyata dan gamang kita saksikan berbagai problem sosial yang terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat kita, mulai dari persoalan ketidakadilan, asusila penyelewangan kekuasaan, tindakan kekerasan, hingga perampokan dan perampasan hak-hak rakyat kecil oleh segelintir kelompok yang berkuasa, dan ini pula yang dimaksudkan oleh sebahagian pengamat sosial sebagai bentuk krisis kemanusiaan dan krisis moralitas yang terjadi dalam kehidupan manusia modern.

Krisis kemanusiaan ini terjadi karena dipicu oleh sifat keserakahan yang tak terkendali. Sedangkan krisis moralitas merupakan suatu hal laten yang sulit diredam oleh masyarakat akibatnya lemahnya pengendalian diri dan kekuatan iman seseorang.

Selain itu, krisis kemanusiaan dan krisis moralitas tersebut telah megalahkan nurani kehidupan berbangsa kita, sehingga bangsa kitapun terperosok dalam kubangan masalah yang berlapis-lapis yang membuat bangsa kita minim dengan sebuah gerakan dan dengung perubahan dalam mentalitas masyarakatnya sendiri. Ironisnya lagi, seabrek persoalan tersebut belum menemukan titik terang akan penyelesaiannya sampai detik ini.

Disisi lain, hukum yang sejatinya diharapakan mampu memberi cahaya keadilan bagi segenap warga masyarakat, khusunya bagi mereka yang terdzalimi secara sosial nampaknya masih dinikmati oleh pemilik kekuasaan dan kaum bermodal. Atau dalam artian, Hukum telah diperjual belikan dan hanya mereka yang mempuanyai akses kekuasaan dan modal yang banyak mampu mebelinya. Parahnya lagi beberapa media pun sangat jarang yang menyorot kasus-kasus ketidakadilan yang dialami masyarakat yang tidak berdaya oleh kekuatan dan kekuasaan hukum yang seakan tidak lagi memberi setitik cahaya keadilan bagi kaum perlahan termarginalkan di negeri sendiri.

Mungkin kita sudah tak asing lagi dengan berita tentang nenek Asyani dari Kabupaten Situbondo yang harus menjalani proses persidangan lantaran diduga mencuri  tujuh batang kayu milik Perum Perhutani. Menurut nenek Asyani kayu jati yang dipermasalahkan tersebut ditebang oleh almarhum suami Asyani sekitar lima tahun silam dari lahan mereka sendiri. Dalam kasus nenek Asyani ini terdapat beberapa kejanggalan. Kayu jati yang diduga dicuri oleh nenek Asyani itu berukuran kecil hanya sekitar 10 sampai 15 sentimeter, sedangkan kayu jati milik Perhutani yang hilang berdiameter 100 sentimeter. 

Sungguh miris hati kita mendengar kasus nenek Asyani yang sudah tua tetapi diperlakukan dengan tidak adil dimana dia ditahan sebelum diadakan persidangan seolah-olah dia seorang kriminal yang berbahaya dan telah merugikan rakyat banyak. Ditambah lagi ancaman hukuman 5 tahun penjara dan penanganan kasus tersebut yang terkesan berlarut-larut tanpa penyelesaian. Dari kasus ini kita bisa menilai bahwa hukum di negara kita belum mampu memberikan sinar dan kedaulatan keadilan kepada rakyat biasa yang tidak punya harta, posisi dan status yang tinggi.

Hukum kita banyak membiarkan kasus-kasus berat jika pelakunya mempunyai harta dan kekuasaan. Orang biasa yang melakukan pelanggaran langsung dijebloskan kepenjara meskipun melakukan pelanggaran kecil. Sedangkan pejabat-pejabat yang melakukan korupsi sampai milyaran bahkan trilyunan dapat berkeliaran dengan bebas. Meskipun ada beberapa koruptor yang dipenjara, mereka masih menikmati fasilitas mewah dipenjara bahkan lebih mewah dari orang biasa yang tinggal di luar penjara. 

Editor:Munawir Tahir
Sumber:http://www.bonepos.com/
Kategori:Opini
wwwwww