Opini

Goyang PPAP-SWAGGER, Potret Generasi Lemah

Goyang PPAP-SWAGGER, Potret Generasi Lemah
Ilustrasi
Rabu, 09 November 2016 12:09 WIB
Penulis: Aisyah, SH

*Aisyah, SH

Hari ini kita akan dianggap kolot apabila kita tidak tahu apa itu PPAP. Lagu dan goyang yang dipopulerkan oleh komedian Jepang, Kazohiko Kosaka yang popular dengan panggilan Piko-Taro. PPAP, atau  singkatan dari Pen-Pineapple-Apple-Pen saat ini menjadi virus yang menjangkiti anak muda Indonesia bahkan mendunia. Virus ini menyebar melalui jejaring sosial, kemudian menjadi viral dan perbincangan di dunia maya. Tidak ada yang istimewa dari lagu ini, lalu mengapa banyak yang menyukainya, membagi disosial media dan bahkan membuat kembali video serupa dengan gayanya masing-masing?

Sebelumnya, para netizen telah dijangkiti demam vlogger (blogger yang membuat video). Mereka marak berbicara tentang akun @awkarin yang kontroversial. Awkarin adalah sosok selebgram muda yang memiliki gaya hidup hedonis dan tak sungkan-sungkan memamerkan kehidupan pribadinya. Akun ini telah menginspirasi ratusan ribu remaja lain untuk melakukan hal yang sama. Awkarin bahkan menjadi alasan bagi kekhawatiran orang tua akan anak-anak mereka.

Adalah fakta yang sangat mengherankan apabila PPAP dan vlogger semacam Awkarin digandrungi oleh para pengguna jejaring sosial di Indonesia, mengingat bahwa para pemuda itu sebagian besarnya adalah pemuda muslim, ditengah berbagai permasalahan pelik yang sedang melanda negeri ini. Tak kurang kisruh politik yang tak kunjung reda, penipuan berkedok takhyul dan khurafat, pembungkaman opini Islam bahkan penistaan terhadap Al-Qur`an.

Fenomena PPAP dan Awkarin merupakan sebuah fenomena anak muda kekinian yang dikenal dengan generasi swag. Jika dilihat dari kamus bahasa Inggris, swag memiliki arti kehancuran. Beberapa tahun terakhir ini swag berubah makna menjadi keren. Ada istilah `swag`, ada pula istilah `swagger`. Awkarin adalah swagger. Swagger artinya sosok yang dominan atau dianggap elite oleh pengikutnya karena kelebihan yang dimilikinya. Ironisnya, kelebihan yang dimaksud sama sekali tidak berhubungan dengan prestasi tertentu melainkan hanya karena sosok itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi, selera fashion yang bagus dan keberanian memamerkan aktivitasnya pribadinya sekalipun itu adalah hal-hal yang memalukan. Generasi swag adalah generasi malas berpikir. Pemuda yang seharusnya berjuang mengambil peran dalam penyelesaian berbagai permasalahan kehidupan telah dialihkan perhatian dan energinya hanya untuk sebatas mencari kesenangan.

Sekulerisasi Digital Kaum Muda

Dimasa serba internet seperti sekarang, informasi mengalir sangat deras, begitu banyak yang dapat dillihat, dibaca, dan didengar dari internet. Statistik ketersediaan informasi sangat mencengangkan, setiap harinya, kita banyak menerima aliran informasi, namun sayangnya, sebagian besar belum tentu bermanfaat dan relevan dengan kebutuhan kita. Arus ini seperti gaung kebisingan dalam intensitas tinggi yang akan menyapu bersih hati dan pikiran kaum muda Muslim, sehingga dapat melumpuhkan “saraf berfikir dan bertindak” menyibukkan mereka dengan hanya sekedar like, share, atau komentar singkat tak berisi dalam menanggapi suatu isu. Padahal potensi generasi muda jauh lebih besar dari itu.

Editor:Munawir Tahir
Kategori:Opini
wwwwww