Berbeda Pilihan, Salahkah?

Berbeda Pilihan, Salahkah?
Ilustrasi
Jum'at, 04 November 2016 11:00 WIB

*Munawir Tahir

Pesta demokrasi 5 tahunan saat ini sedang dimeriahkan oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia. Sesuatu yang biasa dinamakan juga “pesta rakyat”. Pesta rakyat dimaksud adalah “pilkada”, pemilihan kepala daerah.


Pada saat ini, sejumlah partai, baik gabungan partai ataupun jalur perseorangan telah mendeklarasikan calon-calon kepala daerahnya masing-masing. Sejumlah program-program pembangunan juga ikut ditawarkan kepada rakyat. Para kandidat berlomba-lomba untuk dapat mengambil hati rakyat agar dapat dipilih dalam pilkada nantinya.

Masyarakat, sebagai pemilih, mulai membicarakan pilkada ini. Pembicaraan ini terdengar mulai dari level anak-anak hingga orang dewasa, dari warung nasi hingga kantor-kantor. Pembicaraannya tak lepas dari isu-isu yang berkembang selama persiapan “pesta” ini, misalnya partai mana yang akan dipilih, politisi mana yang tergolong baik atau sebaliknya, mana yang dirasa dapat mensejahterakan rakyat atau sebaliknya.

Perlu digaris bawahi bahwa, pada dasarnya, setiap masyarakat mempunyai pandangan dan alasan sendiri dalam menilai dan menetapkan pilihan pemimpin yang dirasa dapat mengemban amanah rakyat. Setiap orang boleh berbeda dalam pandangan partai mana yang dianggap mampu memimpin, tapi hal itu tidak membuat kita berpecah, karena semua dari kita menginginkan suatu hal sama yaitu kedamaian dan perubahan yang dapat dicapai lewat pesta demokrasi ini.

Mengapa demikian?, karena  bila dilihat dalam tradisi ummat Islam, perbedaan bukanlah hal yang baru, apalagi dianggap tabu. Hal ini terbukti dengan banyaknya jumlah buku dan kitab-kitab yang ditulis yang bertujuan untuk merangkum, mengkaji, membandingkan, kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda-beda dengan argumentasinya masing-masing.

Penguasaan terhadap perbedaan ini bahkan menjadi syarat seseorang dapat disebut sebagai mujtahid atau ahli dalam ilmu agama. Orang yang tidak memiliki wawasan tentang pandangan-pandangan berbeda dan beragam beserta alasannya masing-masing, dengan begitu, belum dapat disebut seorang yang ahli (alim) yang mumpuni di bidangnya.

Editor:Munawi Tahir
Kategori:Opini
wwwwww