Opini

Mulutmu Harimaumu; Aku Khawatir Gara-gara Ahok

Selasa, 01 November 2016 16:53 WIB
Penulis: Bagus Santoso
Mulutmu Harimaumu; Aku Khawatir Gara-gara AhokBagus Santoso
AKU sekeluarga tinggal di kota Pekanbaru Provinsi Riau. Tidak ada kaitan apalagi kepentingan dengan pilihan Gubernur DKI Jakarta. Lalu kenapa aku harus kawatir dengan Ahok. Energi surat Al-maidah membuatku gemetar atas apa yang diucapkan dari mulut Ahok. Entah secara sadar atau tidak, atau karena pintar atau bodohnya Ahok. Aku sungguh respek dengan gebrakan reformasi birokrasi di DKI Jakarta. PNS dipaksa disiplin dan wajib memberikan pelayanan prima pada masyarakat. Jakarta terlihat rapi dan maju pembangunannya. Meski dalam hati kecilku aku tidak suka - kurang sreg dengan omong kasar dan gaya sok petentang petenteng Ahok.

Kini aku sekeluarga dibuat kawatir atas apa yang dilakukan Ahok. Itu karena anak- anakku bermata sipit. Aku mencemaskan keselamatan isteri dan anak-anakku. Ada bayangan kejadian tahun 1998 terulang kembali. Siapa manusia bermata sipit akhirnya mendapat efek jelek tersebab ulah pongah seseorang atau sekelompok Cina.

Memang tidak semua orang keturunan Cina di Indonesia senang dengan style Ahok. Apalagi cina muslim yang hidup di Indonesia. Tiba-tiba Kehidupan yang rukun dan damai terusik. Sejak Ahok berkuasa membuat suasana berubah menjadi gaduh.

Isteriku keturunan Cina yang lahir di Selatpanjang, sebuah pulau di tepian alur selat Melaka Provinsi Riau. Sejak lahir, isteriku tidak tahu ayah dan ibu kandungnya. Isteriku sebut saja Nona diangkat oleh mertuaku M Yunus yang asli suku Melayu Kunto Darusalam Kabupaten Rokan Hulu sedangkan ibu Hj Yati dari Pacitan.

Meski diasuh sejak kecil, Nona tetap bermata sipit. Dan inilah salah satu pertimbangan mengapa saya memilihnya menjadi pasangan setia dalam hidupku. Banyak Cina di Indonesai tetapi yang muslim tidaklah ramai.

Kadang saya juga berpikir kenapa Cina yang merantau ke nusantara jarang sekali atau bahkan tidak ada yang muslim. Padahal kalau membaca sejarah kerajaan Demak dan Majapahit menyebut keberadaan Cina Muslim sudah berperan pada zaman itu. Saya belum mendapatkan literatur sejarah terkait migrasi orang Cina ke Indonesia. Saking penasaran terhadap Cina muslim. Pada waktu menunaikan ibadah haji secara khusus saya ditemani Jumdan, mahasiswa Makkah dari NTB mencari pemondokan Cina muslim. Mereka bermata sipit tetapi wanitanya memakai jilbab berkerudung dan terlihat anggun. Sementara wanita Cina di Indonesia lebih banyak yang memakai busana seksi dan terbuka.

BACA JUGA:

. Diduga Ancam Bunuh dan Gantung Ahok di Monas, Nusron Wahid: Habib Rizieq akan Diperiksa Polisi

. Pasukan Berani Mati Berikan Opsi ke Polri, Pilih Bela Ahok Atau Bergabung dengan Umat Islam

. Kapolda Metro Jaya: Habib Rizieq Sudah Jamin Demo Ahok 4 November Berjalan Aman Tanpa Anarkis

Saya juga sempat bertemu rombongan ibadah haji dari Cina pada tawaf di lintasan 4 dan ketika melihat museum di Makkah. Ini cukup menggambarkan betapa Cina muslim itu banyak jumlahnya. Gara- gara Ahok yang memicu gerakan demontrasi umat muslim. Menambah kekawatiran keselamatan anak- anakku. Si sulung Dafiq kini kuliah di Bandung. Si bungsu Bimo memang masih SD dan sekolah di Pekanbaru.

Biasanya setiap liburan pergi ke Jakarta menunaikan sholat di masjid Istiqlal. Tapi sejak ramai akan adanya demontrasi saya tidak berani membawa isteri dan anakku ke Jakarta.

Entah mengapa kekuatan dari mana Ahok berani mengaitkan Al- quran pada acara pertemuanya di Pulau Seribu. Padahal andai saja Ahok tidak sembrono, meski dari etnis Cina dan non muslim sebagia orang mendukungnya. Muslim Indonesia sangat toleran dan baik hati. Terkadang kebaikan muslim Indonesia dipandang enteng. Padahal kalau sudah menyangkut aqidah muslim Indonesia sangat sensitif. Menggangu Islam nyawa dan harta benda taruhannya.

Kekuasaan memang suka membuat orang lupa daratan. Menjadi pongah sombong dan syok hebat dan benar sendiri. Tetapi dengan kekuasaan jugalah yang membuat nama seseorang harum - ranum, jika memegangnya dengan santun dan berwibawa, adil serta tak semena-mena. Padahal kalau mau belajar dari sejarah. Tidak satupun manusia yang langgeng dengan kekuasaanya. Malahan sebaliknya, banyak manusia yang hancur berderai akibat salah memainkan pedang kekuasaan.

Menariknya apa yang telah dilakukan Ahok mendapat tanggapan pro dan kontra muslim Indonesia. Sebagian kelompok tegas menyatakan Ahok salah dan jelas menista agama umat muslim. Sementara golongan lain membelanya. Begitupun media cetak dan elektronik terbelah menjadi dua corong.

Lihatlah betapa membingungkan umat muslim mencerna pendapat Syafii Maarif dah Nusron Wahid yang cenderung membela Ahok. Sedangkan Amin Rais dan Habib Raziq Sidik menegaskan apa yang diucapka Ahok itu jelas menista Islam dan wajib hukumnya Ahok di tangkap dan dihukum.

Persoalan semakin komplek karena bersamaan dengan proses pilkada Gubernur DKI. Ahok adalah salah satu calon Gubernur yang di dukung oleh kekuatan partai politik (parpol); Golkar, PDIP, Hanura dan Nasdem.

Meski dikatakan tidak ada kaitan antara Pilkada dengan penistaan agama. Namun saat ini Ahok dan parpol pendukungnya mati- matian membela untuk kemenangan Ahok. Sementara barisan muslim akhirnya kompak menghadang Ahok.

Soal Pilkada jelas ada aturan yang jelas. Begitu tentang penistaan agama juga sudah tegas hukumannya. Maka inilah sejarah Ahok dalam meniti karier politik dan menjalani hidupnya. Silahkan Ahok buat apa yang ia suka, tapi saya juga tidak terima jika Islam agamaku dinista. Gara-gara Ahok aku dan keluargaku dibuat khawatir. Cemas akan terulang lagi sejarah kerusuhan etnis. Sedangkan separuh jiwaku sudah terlanjur mengalir darah Cina.

Aku dan keluargaku muslim yang tidak rela Islam Agamaku dinista. Bagiku agamaku bagimu agamamu.

Semoga Jumat 4 November nanti akan menjadi gerakan umat Islam yang berwibawa dan menjadi pelajaran bagi siapa saja untuk tidak mengusik pedang tajam Aqidah umat muslim, Allahu Akbar!

Jakarta, 1 November 2016

* Bagus Santoso adalah warga Riau, tinggal di Pekanbaru

Kategori:Opini
wwwwww